Brightmark - Daur Ulang Plastik Menggunakan Bahan Kimia

Brightmark Energy Sebagai Garda Terdepan Daur Ulang Plastik Menggunakan Bahan Kimia

Sejak tahun 1992, Tiongkok telah melakukan impor limbah padat berbagai jenis senilai 106
juta ton
, termasuk limbah plastik. Tiongkok sudah sejak lama menjadikan industri
pengolahan limbah plastik sebagai sumber pendapatan negaranya, dan hal ini pun
mendapat respon internasional yang baik. Dikarenakan harga tenaga kerja yang cenderung
murah, dan juga negara pengirim tidak perlu repot memikirkan untuk membangun sistem
pengolahan limbah plastik. Karena bergantung pada Tiongkok sebagai pihak pengelolanya.

Namun di tahun 2018, Tiongkok memutuskan untuk memberhentikan impor limbah plastik
secara total. Hal ini pun didorong karena dampak kontaminasi yang diterima oleh
pekerja-pekerja di pabrik, lebih daripada itu angka limbah plastik sudah mencapai taraf yang
tidak terkendali. Belum lagi kondisi limbah plastik yang diterima Tiongkok sendiri sudah
tercampur dengan limbah makanan atau limbah padat lainnya. Menjadikan usaha untuk
melanjutkan industri ini tidak senilai dengan kesulitan dalam proses segmentasi limbah yang
diimpor.

Kebijakan internasional yang dilakukan oleh Tiongkok ini banyak menuai respon dari
berbagai pihak. Negara-negara kawasan Eropa dan Amerika Serikat sebagai klien utama dari
Tiongkok tentu kalang kabut karena kehilangan pengelola limbahnya. Mengharuskan
mencari alternatif negara importir limbah plastik lain seperti India, Malaysia, atau Indonesia.
Yang notabene juga negara tujuan tersebut belum memiliki kapabilitas yang cukup untuk
mengatasi limbah plastik di kawasan domestiknya.

Beberapa respon lain mengatakan bahwa Tiongkok telah merusak siklus daur ulang plastik.
Di mana opini ini sendiri cenderung memojokan Tiongkok layaknya pelaku kejahatan, namun
tidak merefleksikan ke dalam negaranya sendiri untuk membangun sistem daur ulang yang
baik. Terlepas dari itu semua, negara-negara di dunia memiliki kesempatan yang lebih baik
karena tidak harus bergantung lagi dengan Tiongkok. Larangan impor membuka peluang
untuk menggali potensi dan sistem daur ulang plastik seperti apa yang cocok di negaranya.

Daur Ulang Plastik Dengan Bahan Kimia Sebagai Teknologi Terbarukan

Brightmark yang dibangun pada 2016, hadir sebagai lini terdepan Amerika Serikat sebagai
pabrik pengolahan limbah plastik yang menggunakan bahan kimia. Fokus yang diutarakan
Brightmark ini memiliki perbedaan yang signifikan dengan Tiongkok yang menggunakan daur
ulang mekanikal. Yang pada umumnya daur ulang mekanikal pantas disebut “ketinggalan
zaman” karena beberapa faktor.

Pertama, daur ulang mekanikal tidak dapat mengolah semua jenis plastik. Hanya mampu
mengolah plastik berkualitas tinggi yaitu PET dan HDPE. Menyebabkan berbagai plastik jenis
lain seperti PVC tetap menjadi sumber polusi di daratan dan lautan. Kedua, proses daur
ulang mekanikal mengurangi kualitas dari produk semulanya. Dengan kata lain, proses ini
akan memiliki batasan tertentu dan tetap berujung kepada polusi pada akhirnya. Ketiga yang
tak kalah penting adalah kontaminasi terhadap pekerja di pabrik daur ulang mekanikal. Di
mana proses pelelehan plastik memiliki bahaya yang cukup signifikan terhadap kesehatan
paru-paru dan otak dari para pekerja di sekitarnya.

Hal ini lah yang dihindari oleh Brightmark. Metode pirolisis sendiri diusung agar limbah
plastik dapat kembali ke material dasarnya, yaitu bahan bakar fosil. Keuntungan dari
kegiatan yang dilakukan oleh Brightmark sendiri adalah banyaknya ketersediaan opsi dari
produk akhir yang diinginkan. Plastik yang dikembalikan ke bentuk bahan bakar fosil, dapat
diolah kembali menjadi plastik baru yang tetap memiliki kualitas atau bahan bakar untuk
kendaraan dan pabrik.

Brightmark memiliki keleluasaan opsi untuk memilih kualitas oktan sesuai dengan
kebutuhan. Mulai dari solar untuk kendaraan roda empat, hingga bahan bakar pesawat jet
untuk kemiliteran. Keuntungan lainnya yang didapat oleh pabrik daur ulang plastik ini yang
utama adalah minimnya emisi yang dihasilkan oleh pabrik. Sehingga tidak mencemari udara
maupun kemungkinan kontaminasi dari pekerjanya.

Tantangan Dan Masa Depan Brightmark Di Daur Ulang Plastik

Mengingat bahwa produk akhir dari daur ulang plastik yang dilakukan oleh Brightmark
adalah BBM, hal ini menuai sedikit banyak pertanyaan. Dikarenakan BBM tersebut tentu
dapat menghasilkan emisi lagi dari kendaraan yang menggunakannya. Namun tidak bisa
dinilai secara utuh bahwa langkah ini tidak memiliki manfaat. Maka tetap dilaksanakan
semaksimal mungkin.

Lebih daripada itu, produk plastik maupun BBM dari hasil pirolisis memakan biaya produksi
yang cukup mahal ketimbang produksi plastik konvensional. Sementara itu BBM hasil daur
ulang plastik sendiri masih harus bersaing dengan harga pasaran BBM pada umumnya. Juga
mengingat bahwa plastik hasil pirolisis akan terjual setidaknya lebih mahal daripada
konvensional. Menjadikan pencarian terhadap pasar yang mencari plastik hasil daur ulang
lebih sulit karena harganya yang berbeda dengan plastik konvensional.

Terlepas dari itu semua, Bob Powell selaku founder dan CEO dari Brightmark mengklaim
akan menjadi fasilitas daur ulang plastik terbesar di dunia, dengan teknologi dan usaha yang
dilakukan diharapkan dapat menata ulang limbah plastik untuk masa depan ekonomi dan
lingkungan yang lebih baik. Brightmark menargetkan pada 100.000 ton limbah plastik yang
dapat diolah pada tahun 2021. Dengan tentunya dikonversikan menjadi BBM atau plastik
kembali. Serta dampaknya yang luas terhadap ketenagakerjaan dengan dibukanya lebih dari
100 lowongan untuk bagian engineering, maintenance, dan operations.

Hubungi Sekarang

Untuk konsultasi terkait produk dan harga

Untuk mengirimkan email permintaan produk

Untuk Anda, pemilik bisnis dengan pembelian partai besar